Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 01 November 2010

KTI Sadari


Gambaran tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun 2009

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
            Penyakit kanker payudara saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. Dimana, kanker payudara merupakan penyebab utama mortalitas (kematian) wanita. Kanker payudara merupakan jenis kanker yang perlu mendapat perhatian tinggi dari setiap orang terutama wanita, karena kanker payudara merupakan kanker dengan angka kejadian tertinggi yang menyerang wanita di Indonesia. Kendati terjadi penurunan angka kematian, angka kejadiannya terus meningkat Bahkan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. (Gigih Priyandoko, 2009). Hal itu, dikarenakan pengetahuan masyarakat akan kanker payudara masih sangat rendah dan juga masih kurangnya kesadaran wanita Indonesia  untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker payudara.
            Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling umum diderita kaum wanita. Satu diantara delapan wanita beresiko terkena kanker payudara (Admin, 2008). Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah kasus baru meningkat hampir 12% pertahun. Usia penderitapun semakin muda, bahkan diusia remaja. Di Indonesia, insiden kanker payudara masih belum diketahui secara pasti. Berdasarkan data dari IARC (International Agency for Research on Cancer) tahun 2002, insiden kanker payudara di Indonesia sebesar 26 per 100.000 perempuan. Diperkirakan angka kejadian minimal 20.000 kasus baru pertahun dan 50% ditemukan pada stadium lanjut. (Gigih Priyandoko, 2009).
            Sebagai perbandingan, angka kejadian kanker payudara di Amerika Serikat yaitu dari 100.000 wanita didapatkan 92 wanita menderita kanker payudara per tahun dengan angka kematian 27 orang dari 100.000 penderita. Menurut Haryono (2008), kurve angka kejadian meningkat pada usia di atas 30 tahun dan yang paling tinggi pada kelompok usia 45-66 tahun. Mengingat separuh kasus baru kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut, maka dianjurkan bagi para wanita Indonesia terutama Wanita Usia Subur (WUS) yang berumur 15-45 tahun untuk melakukan deteksi dini kanker payudara dengan pengobatan yang semakin maju dari tahun ke tahun.
            Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2005, jumlah penderita kanker payudara terdaftar sebanyak 3884 orang. Sedangkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen tahun 2008, jumlah penderita kanker payudara terdaftar sebanyak 88 orang (57%) yaitu menempati urutan pertama. Selanjutnya untuk urutan kedua yaitu kanker leher rahim sebanyak 32 orang (21%), untuk urutan ketiga yaitu kanker hati sebanyak 23 orang (15%), dan untuk urutan keempat yaitu kanker paru-paru sebanyak 11 orang (7%).
            Sesungguhnya, kanker payudara bukanlah suatu penyakit yang sama sekali tidak bisa disembuhkan. Menurut WHO, bila penyakit kanker payudara ini terdeteksi pada stadium dini, maka sekitar 90-98% kanker ini dapat disembuhkan dengan sempurna. Deteksi dini merupakan upaya yang penting dalam penanganan kanker payudara. Sebagian besar kanker payudara ditemukan oleh penderita sendiri. Tetapi, sering temuan ini sudah bukan lagi pada stadium dini tetapi sudah pada stadium lanjut. Oleh karena itu, diperlukan upaya masyarakat dan tenaga medis serta kesadaran dari masyarakat khususnya wanita dalam meminimalkan dan mencegah penyakit kanker payudara dengan mempelajari dan melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Namun demikian, masih banyak wanita yang belum tertarik untuk melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Hal ini kemungkinan terjadi akibat minimnya pengetahuan atau informasi tentang SADARI.
            Di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen tingkat pengetahuan masyarakat tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) masih sangat kurang. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi dari tenaga kesehatan tentang pentingnya SADARI, dan juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan wanita yang masih rendah. Oleh karena itu, sangatlah penting memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran wanita dalam melakukan SADARI sebagai upaya deteksi dini kanker payudara.
            SADARI adalah upaya yang dilakukan oleh seorang wanita untuk mendeteksi dini kanker payudara melalui beberapa tahapan. SADARI merupakan bagian penting dari perawatan kesehatan yang dapat melindungi diri dari resiko kanker payudara. SADARI sangatlah penting dilakukan secara rutin oleh wanita sejak dini. Dengan SADARI, wanita dapat lebih mengenal payudara sendiri sehingga diharapkan dapat mendeteksi setiap perubahan awal yang mungkin merupakan gejala awal terjadinya kanker payudara. Sehingga, bisa secepatnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan ini maka, sebagaian besar lembaga yang berwenang merekomendasikan bahwa semua pasien wanita, lepas dari tingkat usianya diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri.
            Dari studi pendahuluan yang dilaksanakan peneliti melalui metode wawancara dengan 10 wanita usia subur di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen pada bulan Februari 2009, diketahui bahwa 3 orang (30%) tamat SD, 3 orang (30%) tamat SMP, 2 orang (20%) tamat SMA, dan 2 orang (20%) tamat PT.
            Dengan melihat permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri  Sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara Di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun 2009.

B.  PERUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu: Bagaimana tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun 2009?





C.  PERTANYAAN PENELITIAN
            Bagaimana tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun 2009?

D.  TUJUAN PENELITIAN
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun 2009.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang pengertian SADARI
b.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang tujuan melakukan SADARI
c.       Untuk mengetahui tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang waktu pelaksanaan SADARI
d.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang cara melakukan SADARI

E.  MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat diadakannya penelitian ini adalah:
1.      Bagi Institusi Pendidikan
a.       Sebagai pengetahuan dan menambah wawasan mengenai pemeriksaan payudara sendiri sebagai deteksi dini kanker payudara dalam kegiatan pembelajaran.
b.      Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa kebidanan dalam menambah pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri.

2.      Bagi Profesi Bidan
Menambah masukan bagi Bidan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan wanita khususnya wanita usia subur tentang pemeriksaan payudara sendiri sebagai deteksi dini kanker payudara.
3.      Bagi Wanita Usia Subur
a.       Meningkatkan kesadaran wanita usia subur akan pentingnya pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara.
b.      Meningkatkan kepedulian masyarakat khususnya wanita usia subur akan pentingnya merawat dan menjaga kesehatan diri sendiri.
4.      Bagi Peneliti
a.       Mengetahui seberapa besar pengetahuan wanita usia subur terhadap pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun 2009.
b.      Menambah pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara.
5.      Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen
a.       Menambah masukan bagi para pengambil keputusan bidang kesehatan untuk menentukan upaya yang tepat dalam rangka menekan angka kejadian kanker payudara di masyarakat.
b.      Membantu menemukan cara yang tepat dalam mendeteksi masalah kanker payudara secara dini.

F.   KEASLIAN PENELITIAN
            Penelitian mengenai Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) ini sebelumnya telah dilakukan oleh seorang peneliti yaitu:
1.      Desak Made Sri Rahayu (2008) melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri Sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara di Dusun Kembangsari Desa Srimartani Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul”. Jenis penelitiannya adalah deskriptif  dengan menggunakan pendekatan cross sectional dan variabelnya adalah variable tunggal yaitu tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara. Penelitian tersebut menggunakan populasi sebanyak 125 wanita usia subur dan besar sampelnya sebanyak 95 wanita usia subur. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil tingkat pengetahuan wanita usia subur di Dusun Kembangsari Desa Srimartani Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul dalam kategori baik. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh Penulis adalah terletak pada populasi, sampel dan tempat penelitian. Penulis menggunakan populasi sebanyak 832 wanita usia subur, besar sampelnya sebanyak 208 wanita usia subur dan penulis melakukan penelitian di Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun 2009.

E. RUANG LINGKUP
1.      Ruang Lingkup Waktu
Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2009.
2.      Ruang Lingkup Tempat
Tempat yang menjadi lokasi penelitian ini adalah Desa Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen.
3.      Ruang Lingkup Materi
Materi dalam penelitian ini adalah Kesehatan Reproduksi Wanita Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    TINJAUAN  TEORI
1.      Pengetahuan
a.      Pengertian
1)        Pengetahuan
            Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. (Notoatmodjo, 2003).
            Namun, dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
2)        Pengetahuan
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, kepandaian, berkenaan dengan suatu hal.
b.      Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2003) tingkat pengetahuan tercakup dalam domain kognitif yang mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
1)      Tahu (Know)
            Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dengan cara menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan.
2)      Memahami (Comprehension)
            Memahami merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat mejelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari.
3)      Aplikasi (Aplication)
            Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dalam  konteks atau situasi yang lain.
4)      Analisis (Analysis)
            Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
5)      Sintesis (Synthesis)
            Sintesis disini menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dari dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6)      Evaluasi (Evaluation)
            Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
c.       Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan
            Menurut Soekanto (2002) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu :
1)        Tingkat Pendidikan
            Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif meningkat, sehingga diharapkan tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkat pengembangan pengetahuan. Pendidikan akan menghasilkan banyak perubahan seperti pengetahuan, sikap dan perbuatan.
2)        Sosial Ekonomi
            Semakin tinggi tingkat pendapatan manusia maka semakin tinggi keinginan manusia untuk dapat memperoleh informasi melalui media yang lebih tinggi.
3)        Budaya
            Tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang meliputi sikap dan kepercayaan.
4)        Informasi
            Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih  banyak akan banyak akal, mempunyai pengetahuan yang lebih luas.
5)        Pekerjaan
            Pekerjaan merupakan variabel yang sulit digolongkan namun, berguna bukan saja sebagai dasar demografi, tetapi juga sebagai suatu metode untuk menentukan sosial ekonomi.
6)        Pengalaman
            Pengalaman diartikan sebagai sumber belajar sekalipun banyak orang yang berpendapat bahwa pengalaman itu lebih luas daripada sumber belajar. Pengalaman artinya berdasarkan pada pikiran yang kritis akan tetapi pengalaman belum tentu teratur dan bertujuan. Pengalaman-pengalaman yang disusun secara sistematis oleh otak maka hasilnya adalah ilmu pengetahuan.
7)        Umur
            Umur berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan, karena kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada situasi baru, seperti mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari, penalaran analog dan berfikir kretif, mencapai puncaknya dalam usia 20an.
8)        Paritas
            Jumlah anak dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan individu / seseorang. Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh informasi, budaya, dan pengalaman melakukan sesuatu.
d.      Pengukuran pengetahuan
            Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan dari subyek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2003). Hasil pengolahan data menggunakan angket dengan kategori sebagai berikut :
a.       Pengetahuan tinggi    : 76% - 100%
b.      Pengetahuan sedang  : 56% - 75%
c.       Pengetahuan rendah   : > 55%
(Arikunto, 2002)  
2.      Wanita usia subur
            Wanita usia subur adalah wanita yang berumur 15- 45 tahun pada masa atau periode dimana dapat mengalami proses reproduksi yang ditandai dengan timbulnya menstruasi dan diakhiri dengan menopouse.
            Pada usia 25 tahun wanita berada pada masa yang paling subur dan mulai menurun fungsi reproduksinya atau menurun kesuburannya pada usia 35 tahun. Fungsi reproduksi wanita yang normal secara berkala dikendalikan oleh hormon progesteron dan esterogen yang berasal dari ovarium. Masa subur pada wanita ini ditandai dengan pematangan folikel, ovulasi, dan pembentukan korpus luteum dimana fungsi reproduksinya mulai berjalan dengan baik.
            Masa subur ini akan berakhir dengan hilangnya fungsi generatif dari ovarium. Lamanya masa subur pada seorang wanita tergantung pada cadangan folikel yang masih tersedia dalam ovarium (Prawirohardjo, 2002). Jadi, masa subur pada wanita itu tidak sama antara wanita yang satu dengan yang lainnya. Wanita yang normal dan sehat, setiap bulannya pasti akan mengalami gejala menstruasi atau haid. Hal itu merupakan peristiwa penting pada masa subur yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual dimana wanita benar-benar telah siap secara biologis menjalani fungsi kewanitaannya (Syaifuddin, 2006). Adapun siklus itu sendiri dibedakan menjadi 3 masa utama, yaitu : (Prawirohardjo,2005)
a.       Masa haid, selama dua sampai delapan hari. Pada waktu ini endometrium dilepas, sedangkan pengeluaran hormon-hormon ovarium paling rendah (minimum).
b.      Masa proliferasi, sampai hari keempat belas. Pada waktu ini endometrium tumbuh kembali, disebut juga endometrium mengadakan proliferasi. Antara hari kedua belas dan keempat belas dapat terjadi pelepasan ovum dari ovarium yang disebut ovulasi.
c.       Masa sekresi, hari keempat belas sampai hari kedua puluh delapan. Pada masa ini korpus ribrum menjadi korpus luteum yang mengeluarkan progesteron. Sehingga, keadaan ini memudahkan adanya nidasi (pembuahan).

3.      Kanker payudara
a.      Pengertian
            Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat, dan tidak terkendali.
            Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh pada jaringan payudara sebagai akibat adanya pertumbuhan abnormal sel pada payudara.
b.      Anatomi Payudara
            Payudara adalah pelengkap organ reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air susu. Payudara terletak dalam fasia superfisialis di daerah antara sternum dan aksila, melebar iga kedua sampai iga ketujuh. Bagian tengah terdapat puting susu yang dikelilingi oleh areola mamae yang berwarna cokelat. Dekat dasar puting terdapat kelenjar montgomeri yang mengeluarkan zat lemak supaya puting tetap lemas. Puting mempunyai lubang ± 15 – 20 untuk tempat saluran kelenjar susu. Payudara terdiri dari bahan-bahan kelenjar susu yang tersusun atas lobus-lobus yang saling terpisah oleh jaringan ikat dan jaringan lemak, setiap lobus bermuara ke dalam duktus laktiferus (saluran air susu). Seringkali, awal kanker payudara tumbuh pada kelenjar susu atau lobulus. (Syaifuddin, 2006).
            Payudara juga terdiri dari pembuluh darah dan aliran getah bening yang mengalirkan cairan melalui tubuh menuju kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening yang letknya dekat payudara mulai menyebar, lokasi penyebaran pertama yang paling umum adalah pada kelenjar getah bening (terletakdi bagian bawah lengan). Jika sel kanker telah menyebar ke bagian tersebut, akhirnya muncul benjolan (Admin, 2008).
c.       Etiologi
            Hingga kini, penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti tetapi payudara merupakan alat seks sekunder yang selalu menerima rangsangan hormonal setiap siklus menstruasi, pada saat hamil dan menyusui (laktasi). Sel-sel yang sensitif terhadap rangsangan hormonal mungkin mengalami perubahan degenerasi jinak atau menjadi ganas. Oleh karena itu, bidan sedapat mungkin selalu melakukan pemeriksaan payudara sehingga keberadaan kanker, perubahan warna, atau perubahan puting payudara dapat diketahui.
            Faktor predisposisi kanker payudara diantaranya bersifat menurun (herediter) dan kejadian kanker payudara lebih banyak pada wanita yang tidak memberikan ASI. Dengan kelainan pada payudara, melihat perubahan atau dengan perabaan, bidan dapat merujuk penderita sehingga mendapatkan pemeriksaan ataupun pengobatan lebih lanjut (Manuaba, 1998).
d.      Faktor Resiko
            Meskipun belum ada penyebab spesifik kanker payudara yang diketahui, namun ada beberapa resiko yang dapat menyebabkan kanker payudara (jaystein, 1998) antara lain :
1)      Hormon esterogen
            Pemaparan dalam jangka waktu lama terhadap esterogen berkaitan dengan terjadinya kanker payudara. Penghentian atau pemendekan lamanya pajanan hormon (menarche yang terlambat, menopouse dini dan kehamilan cukup bulan) menurunkan resiko kanker payudara.
2)      Diet
            Diet tinggi lemak pada masyarakat Barat berhubungan dengan resiko tinggi kanker payudara. Diet rendah lemak pada masyarakat Timur mengakibatkan resiko kanker payudara sangat rendah.
3)      Resiko lain
            Faktor-faktor yang harus dicari dalam riwayat pasien kanker payudara antara lain adalah kanker payudara sebelumnya, kanker payudara pada kerabat wanita tingkat pertama (anak perempuan, saudara perempuan, atau ibu), nuliparitas atau hamil pertama kali setelah berumur 31 tahun dan umur yang lebih dari 40 tahun.
            Walaupun sampai saat ini penyebab spesifik kanker payudara belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor resiko menurut Moningkey dan Kodim mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara, diantaranya :
1)      Usia
            Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia di atas 60 tahun. Resiko tersebar pada wanita berusia diatas 75 tahun.
2)      Pernah menderita kanker payudara
            Wanita yang pernah menderita kanker in situ (kanker yang masih berada pada tempatnya) atau invasif (kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan) memiliki resiko tertinggi untuk menderita kanker payudara. Setelah payudara yang terkena diangkat, maka resiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat sebesar 0-5-1%/ tahun.
3)      Pernah menderita penyakit payudara non-kanker
            Resiko menderita kanker peyudara agak lebih tiggi pada wanita yang pernah menderita penyakit non-kanker yang menyebabkan bertambahnya jumlah saluran air susu dan terjadinya kelainan struktur jaringan payudara.
4)      Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara dan faktor genetik
            Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan resiko keganasan pada wanita yang keluarganya menderita kanker  payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu yaitu BRCA 1 dan BRCA 2. Jika seorang wanita memiliki salah satu dari gen tersebut, maka kemungkinan menderita kanker payudara sangat besar.


5)      Menarche (menstruasi pertama)
            Sebelum usia 12 tahun, menopouse setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil. Semakin dini menarche, semakin besar penderita kanker payudara. Resiko menderita kanker payudara adalah 2-4 kali lebih besar pada wanita yang mengalami menarche sebelum usia 12 tahun. Demikian juga pada wanita menopouse ataupun kehamilan pertama. Semakin lambat menopouse dan kehamilan pertama, semakin besar resiko menderita kanker payudara.
6)      Pemakaian pil KB atau terapi sulih esterogen
            Pil KB bisa sedikit meningatkan resiko terjadinya kanker payudara, yang tergantung pada usia, lamanya pemakaian dan faktor lainnya. Belum diketahui berapa lama efek pil akan tetap ada setelah pemakaian pil dihentikn. Terapi sulih esterogen yang dijalani selama lebih dari 5 tahun tampaknya juga sedikit meningkatkan resiko kanker payudara dan resikonya meningkat jika pemakaiannya lebih lama.
7)      Obesitas pasca menopouse
            Obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara yang masih diperdebatkan. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara kemungkinan karena tingginya kadar esterogen pada wanita obesitas.
8)      Pemakaian alkohol
            Pemakaian alkohol lebih dari 1-2 gelas / hari bisa meningkatkan resiko terjadinya kakner payudara.
9)      Bahan kimia
            Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia menyerupai esterogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.         
10)  DES (Dietilstilbestrol)
            Wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah keguguran memiliki resiko tinggi menderita kanker payudara.
e.       Tanda dan Gejala
            Kanker payudara meruakan penyakit yang dapat diketahui sejak dini. Untuk mengetahui adanya penyakit kanker payudara, ada tanda-tanda dan gejala umum (Kompas, 25 Juli 2003), antara lain :
1)        Muncul benjolan dipayudara yang permanen, terdapat perubahan bentuk payudara, benjolan di sekitar ketiak dan umumnya benjolan ini tidak menyebabkan nyeri. Benjolan ini mula-mula kecil, makin lama makin besar, lalu melekat pada kulit payudara atau pada puting susu.
2)        Kelainan kulit berupa ruam pada kulit di sekitar payudara, perubahan warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola (daerah berwarna cokelat tua disekeliling puting susu), payudara tampak kemerahan, kulit di sekitar puting susu bersisik, puting susu tertarik ke dalam atau terasa gatal sampai menjadi oedem (bengkak) hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk, mengkerut atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu maki lama makin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah. 
f.       Diagnosis
            Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan berikut :
·         Biopsi (pengambilan contoh jaringan payudara untuk diperiksa dengan mikroskop)
·         Rontgen dada
·         Mammografi
·         USG payudara
·         Pemeriksaan darah untuk menilai fungsi hati dan penyebaran kanker
·         Skening tulang (dilakukan jika tumornya besar atau ditemukan pembesaran kelenjar getah bening)
Namun, cara yang paling banyak dianut yaitu berdasarkan penentuan stadium kaknker payudara yaitu :
1)        Stadium 1
Pada stadium ini, benjolan kanker tidak lebih dari 2 cm dan tidak dapat terdeteksi dari luar. Perawatan yang sangat sitstematis akan diberikan pada kanker stadium ini, tujuannya adalah agar sel kanker tidak dapat menyebar dan tidak berlanjut pada stadium selanjutnya. Pada stadium ini, kemungkinan sembuh total pada pasien adalah 70%.
2)        Stadium 2
Pada staium ini, kemungkinan sembuh penderita adalah 30-40% tergantung dari luasnya penyembuhan sel kanker. Biasanya besarnya benjolan kanker sudah lebih dari 2 cm bahkan bisa sampai 5 cm dan tingkat penyebarannya pun sudah sampai daerah ketiak. Atau bisa juga ukuran kanker sudah mencapai 5 cm tapi belum menyebar kemana-mana. Biasanya dilakukan operasi untuk mengangkat sel-sel kanker yang ada pada seluruh bagian penyebaran, dan setelah operasi dilakukan penyinaran untuk memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang tertinggal.
3)        Stadium 3A
Menurut data dari Depkes, 87% kanker payudara ditemukan ada stadium ini. Benjolan kanker sudah berukuran lebih dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar limfa.
4)        Stadium 3B
Kanker sudah menyebar secara keseluruh bagian payudara, bahkan mencapai kulit, dinding dada, tulang rusuk dan otot dada. Selain itu juga penyebarannya juga sudah menyerang secara tuntas kelenjar limfa. Jika sudah demikian tidak ada alternatif lain selain pengangkatan payudara.
5)        Stadium 4
Sel-sel kanker sudah merembet menyerang bagian tubuh lainnya, biasanya tulang, paru-paru, hati atau otak. Atau bisa juga menyerang kulit, kelenjar limfa yang ada si dalam batang leher. Sama seperti stadium 3, tindakan yang harus dilakukan adalah pengangkatan payudara.
g.      Pencegahan
            Pada prinsipnya, pencegahan dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit kanker payudara adalah promosi kesehatan dan deteksi dini. Pencegahan-pencegahan ini antara lain :
1)      Pencegahan primer
            Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang “sehat ” melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai faktor resiko dan melaksanakan pola hidup sehat.
2)      Pencegahan sekunder
            Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko untuk terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal merupakan populasi at risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini yaitu melalui mammografi dan SADARI.
3)      Pencegahan tersier
            Pada pencegahan ini biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker payudara. Penanganan yang tepat pada penderita kanker payudara yaitu sesuai dengan stadiumnya yang akan dapat mengurangi kecacatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tersier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan berupa operasi.
4.      Deteksi dini kanker payudara
a.      Pengertian
            Deteksi dini adalah upaya penting untuk mewaspadai terhadap bahaya kanker payudara. Deteksi dini merupakan suatu langkah yang sangat penting untuk menekan angka kejadian kanker payudara pada wanita. Semakin cepat kita mendeteksi terjadinya kanker payudara, semakin baik pula harapan kesembuhannya. Oleh karena itu, jangan segan untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin. Karena, pendeteksian dini kanker payudara sebenarnya mudah dan dapat dilakukan oleh setiap wanita.
b.      Cara Mendeteksi Dini Kanker Payudara
            Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan melalui beberapa pemeriksaan, antara lain :
1)      Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
            SADARI merupakan salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada payudara seorang wanita. SADARI dapat dilakukan mulai usia berapapun tetapi sangat dianjurkan bila usianya sudah lebih dari 20 tahun. SADARI ini sebaiknya dilakukan sekali setiap satu bulan secara teratur. Bagi wanita usia reproduksi, pemeriksaan dilakukan pada hari ke 7 sampai ke 10 dari awal mula haid atau 2-3 hari setelah haid berhenti. Pada saat itulah payudara dalam keadaan lunak. Bagi wanita pasca menopouse, SADARI dilakukan secara rutin setiap awal bulan.
2)      Pemeriksaan Secara Klinis (SARANIS)
            Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter spesialis, dokter umum maupun paramedis yang terampil. Bagi wanita berusia 20-40 tahun, sebaiknya dilakukan pemeriksaan ini setiap 3 tahun.  Sedangkan bagi wanita berusia lebih 40 tahun, sebaiknya dilakukan setiap 1 tahun. SARANIS ini sebaiknya dilakukan  secara sistematis dan berurutan sebagai berikut :
a)      Pasien duduk di tempat tidur periksa. Baju dibuka setinggi pusat, tangan santai. Diamati kesimetrisan dan perubahan bentuk payudara atau puting.
b)      Kedua tangan diangkat ke kepala. Diamati kesimetrisannya dan perubahan bentuk payudara atau puting.
c)      Palpasi kelenjar getah bening aksila dengan lengan pasien diletakkan santai di tangan pemeriksa.
d)     Pasien dalam posisi baring, dipalpasi mulai pinggir sampai puting searah jarum jam dengan teliti, telapak jari dirapatkan, puting ditekan apakah keluar cairan atau tidak.
3)      Mammografi
            Memmografi adalah foto payudara dengan menggunakan peralatan radiologi khusus. Tekniknya sederhana dan tidak sakit. Mammografi dapat mendeteksi kanker payudara yang ukurannya kecil (lebih kecil dari 0,5 cm), bahkan kanker tidak teraba. Pemeriksaan dengan mammografi ini dianjurkan dilakukan setiap 1 tahun sekali bagi wanita yang berusia diatas 40 tahun.
4)      USG (Ultra Sono Graphy)
            USG Payudara juga merupakan cara radiologi yang cukup efektif untuk deteksi dini kanker payudara, terutama dilakukan pada pasien yang usianya relatif muda dan masih dalam masa reproduksi. Sebab, payudaranya masih keras dan akan lebih sulit untuk dilakukan mammografi.

5.      Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
a.      Pengertian
           SADARI merupakan salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada payudara seorang wanita. SADARI dapat dilakukan mulai usia berapapun tetapi sangat dianjurkan bila usianya sudah lebih dari 20 tahun. SADARI ini sebaiknya dilakukan sekali setiap satu bulan secara teratur. Bagi wanita reproduksi, pemeriksaan dilakukan pada hari ke 7 sampai ke 10 dari awal mulai haid atau 2-3 hari setelah haid berhenti. Pada saat itulah payudara dalam keadaan lunak. Bagi wanita pasca menopouse, SADARI dilakukan secara rutin setiap awal bulan. SADARI sangat penting dilakukan secara rutin sejak awal oleh setiap wanita, baik wanita usia reproduksi maupun wanita pasca menopause.Sebab, dengan SADARI wanita dapat lebih mengenal payudara sendiri. Sehingga diharapkan dapat mendeteksi setiap perubahan awal yang mungkin merupakan awal terjadinya kanker payudara. Oleh karena itu, jika ditemukan adanya benjolan yang tidak biasa pada payudara segera langsung hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
b.      Cara melakukan SADARI
Ada beberapa langkah untuk melakukan SADARI, antara lain:
1)        Langkah 1
Di depan cermin, perhatikan apakah kedua payudara simetris. Dan perhatikan apabila ada sesuatu yang tidak biasa, seperti perubahan bentuk, perubahan warna atau bentuk yang lain dari biasanya. Selanjutnya perhatikan apakah ada perubahan pada puting, adanya kerutan, puting yang masuk ke dalam atau pengelupasan kulit. Lalu angkat kedua lengan ke atas sambil memperhatikan apakah kedua payudara tetap simetris.





Gunakan tangan kiri untuk memeriksa payudara kanan dengan cara merabanya dan juga sebaliknya. Angkat tangan kanan, gunakan tiga atau empat jari tangan kiri untuk merasakan payudara kanan dengan teliti dan menyeluruh. Dimulai dari ujung bagian luar tekan dengan bagian jari dalam gerakan melingkar kecil, bergerak perlahan disekitar payudara. Anda dapat memulai pada bagian ujung payudara dan secara perlahan bergerak ke bagian puting atau sebaliknya. Yang perlu diperhatikan adalah meraba seluruh bagian payudara, termasuk daerah ketiak. Kemudian, tekan tangan anda erat pada pinggul dan sedikit menunduk ke depan cermin ketika anda menarik punggung dan sikut ke depan.     
2)        Langkah 2
Rasakan adanya perubahan dengan cara berbaring, letakkan bantal kecil di bawah bahu kanan, lengan kanan di bawah kepala. Periksa payudara kanan dengan tangan kiri dengan meratakan jari-jari secara mendatar untuk merasakan adanya benjolan. Periksa pula lipatan lengan, batas luar payudara, dan ke seluruh payudara.
3)        Langkah 3
Perhatikan tanda-tanda keluarnya cairan ataupun perdarahan dari puting susu. Caranya dengan memencet puting susu dan melihat apakah ada cairan atau darah yang keluar.

4)        Langkah 4
Ulangi langkah-langkah diatas untuk memeriksa payudara kiri. Bila anda mendapati adanya kejanggalan, segeralah periksakan diri ke dokter. Lakukan langkah-langkah SADARI dengan rutin sekali sebulan. Dengan mengetahui gejalanya sedini mungkin, besar kemungkinan kanker payudara dapat disembuhkan.
             Selain dengan langkah-langkah diatas, cara pemeriksaan payudara juga dapat dilakukan dengan pedoman “WASPADA” (Manuaba, 1998) yaitu :
W – aktu buang air besar atau kecil terjadi perubahan atau gangguan.
A – lat pencernaan terganggu dan sulit menelan
S – uara serak atau batuk yang sulit sembuh
P – ayudara atau tempat lain ada benjolan
A – ndeng-andeng yang berubah sifat, cepat besar, atau gatal
D – arah atau lendir abnormal keluar dari tubuh
A – da koreng atau borok yang sulit sembuh
Pedoman “WASPADA” ini, berlaku untuk semua kemungkinan tumor jinak atau degenerasi ganas.












B.       KERANGKA TEORI
            Kerangka teori tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang Pmeriksaan Payudara Sendiri (SADARI), sebagai upaya deteksi dini kanker payudara dapat digambarkan sebagai berikut :








Text Box: Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan :
1. Tingkat Pendidikan
2. Sosial Ekonomi
3. Budaya
4. Informasi
5. Pekerjaan
6. Pengalaman
7. Umur
8. Paritas
 








                                                                      



Gambar 1. Kerangka teori penelitian menurut Notoatmodjo (2003)









BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Variabel Penelitian
            Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2002). Variabel yang dipakai oleh peneliti dalam penelitian ini hanya satu variabel yaitu tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang pemeriksaan payudara sendiri sebagai upaya deteksi dini kanker payudara.


B.     KERANGKA KONSEP
            Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :



 










Keterangan :
                   :Diteliti
                   : Tidak diteliti

Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian

C.    RANCANGAN PENELITIAN
  1. Jenis Penelitian
            Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti menggunakan metode deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif, yang digunakan untuk memecahkan atau menjawab suatu permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2002
  1. Desain Penelitian
            Desain penelitian ini menggunakan rancangan Cross Sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama (Notoatmodjo,2002).
  1. Metode Pengumpulan Data
a.       Jenis Data
1)      Data Primer
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yang diambil langsung dari responden kuisioner (Notoatmojo, 2002).
2)      Data Sekunder
   Data sekunder yaitu berupa sumber informasi yang bukan dari tangan pertama dan bukan yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi atau data tersebut (Notoatmodjo, 2002).
   Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder berupa data wanita usia subur yang berumur 15-45 tahun di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen dan Kader Desa Kedawung.


b.      Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data dalam penelitian yaitu dengan memberikan kuisioner kepada responden yang berada di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen. Untuk mengisi kuisioner terlebih dahulu diberikan penjelasan kepada responden dan diminta kesediannya untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Jenis pertanyaan kuisioner adalah pertanyaan tertutup, dimana pada pertanyaan diberikan jawaban yang telah disediakan peneliti.
  1. Populasi Penelitian
Adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti (Nursalam, 2001). Pada penelitian ini populasinya adalah 832 wanita usia subur yang berumur 15-45 tahun dan bertempat tinggal di wilayah Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen.
  1. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang sedang diteliti atau objek penelitian (Arikunto, 1998). Sampel dalam penelitian ini adalah wanita usia subur yang berada di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen. Pada penelitian ini, besar sampel ditetapkan berdasarkan pada pengambilan sampel yang dilakukan secara simple random sampling (Notoatmodjo, 2002). Besar sampel dihitung 25 % dari jumlah populasi. Jadi, besar sampel yang diambil pada penelitian ini sebanyak 208 wanita usia subur.
Adapun kriteria dalam pengambialn sampel adalah melalui :
a.       Kriteria Inklusi
Kriteria yang dijadikan karakteristik umum subjek penelitian sehingga subjek tersebut dapat diikutkan dalam penelitian ini (Nursalam,2003).
1)      Wanita usia subur yang berusia 15-45 tahun pada tahun 2009.
2)      Bertempat tinggal di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen.
3)      Wanita usia subur dapat menulis dan membaca.
b.      Kriteria Eksklusi
Adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria eksklusi menurut Nursalam (2003) adalah sebagai berikut :
1)      Wanita usia subur yang sakit.
2)      Wanita usia subur yang tidak bersedia menjadi responden.
  1. Definisi Operasional dan Skala Penelitian
Tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang SADARI meliputi pengertian, tujuan, waktu pelaksanaan dan cara melakukan merupakan hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu yang dilakukan oleh wanita yang berumur antara 15-45 tahun yang berada dalam masa reproduksi dan ditandai dengan timbulnya haid pertama kali.
Parameter
1.   Pengetahuan tinggi           = 76% - 100%
2.   Pengetahuan sedang         = 56% - 75%
3.   Pengetahuan rendah          = < 55%
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Ordinal.
  1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data-data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dan lengkap.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar kuisioner yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat tertutup. Pertanyaan dalam penelitian ini berhubungan dengan tingkat pengetahuan WUS tentang SADARI sebagai upaya deteksi dini kanker payudara.
  1. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
a.       Pengolahan Data
Data yang diperoleh kemudian dilanjutkan dengan :
1)      Editing
Adalah pemeriksaan kuesioner, apakah masih ada yang kurang lengkap atau ada jawaban yang kurang konsisten.
2)      Coding
Adalah mengubah jawaban yang berbentuk huruf ke dalam bentuk angka sehingga memudahkan mengentry data.
3)      Tabulating
Adalah pengorganisasian data agar dapat dengan mudah dijumlahkan, disusun dan didata untuk disajikan serta dianalisis.
4)      Entry Data
adalah memasukkan data ke dalam komputer.
b.      Analisis Data
         Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif analitik yaitu mendiskriptifkan atau memaparkan hasil penelitian yang disajikan dengan frekuensi relatif (prosentase) menurut Arikunto (1998) yaitu dengan rumus:
prosentase =  X 100%
keterangan :
F    = frekuensi
N   = Total seluruh Frekuensi
Setelah diperoleh hasil prosentase, kemudian dimasukan kedalam kriteria standar kualitatif menurut Arikunto (2002) adalah sebagai berikut :
      Parameter
a.       Pengetahuan tinggi     = 76% - 100%
b.      Pengetahuan sedang   = 56% - 75%
c.       Pengetahuan rendah    = < 55%


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar